Apa saja area investasi dalam JETP dan berapa kebutuhan investasi masing-masing area?
Upaya untuk mewujudkan peta jalan subsektor ketenagalistrikan on-grid berdasarkan dokumen CIPP diperkirakan memerlukan biaya investasi sebesar minimal 97,3 milyar dolar AS antara tahun 2023-2030.
Nilai ini belum termasuk biaya yang sekiranya diperlukan untuk implementasi Transisi Berkeadilan (Just Transition).
Komitmen pendanaan JETP sebesar 21,6 milyar dolar AS, yang saat ini hanya memenuhi seperlima dari keseluruhan kebutuhan investasi, diharapkan dapat disalurkan ke proyek-proyek yang bersifat katalis yang termuat dalam daftar proyek prioritas JETP di dalam lima fokus area investasi (Investment Focus Area atau IFA). Dalam dokumen CIPP terdapat lima area fokus investasi yang sudah disepakati oleh pemerintah Indonesia dan negara IPG, sebagai berikut:
IFA 1: Pengembangan jaringan transmisi dan distribusi (jaringan interkoneksi)
Pengembangan jaringan transmisi mengurangi kebutuhan untuk penggunaan pembangkit captive dan dapat meningkatan akses energi. Dokumen CIPP menyatakan bahwa dibutuhkan sekitar 14.000 km circuit transmisi dengan total biaya mencapai 19,7 milyar dolar AS hingga tahun 2030.
IFA 2: Pemensiunan dini dan Managed Phase-Out PLTU batu bara
Pemensiunan PLTU batu bara memungkinkan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi kelebihan pasokan (oversupply). Dokumen CIPP menyatakan bahwa upaya retrofitting untuk meningkatan fleksibilitas PLTU batubara dan pemensiunan dini PLTU batubara akan memerlukan dana hingga 2,4 miliar dolar AS hingga tahun 2030.
IFA 3: Akselerasi pemanfaatan energi terbarukan tipe dispatchable
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), dan Pembangkit Listrik tenaga Biomassa (PLTBm) dapat berfungsi sebagai pasokan listrik baseload bagi ekonomi rendah karbon. Dokumen CIPP mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas sebesar 16,1 GW pada tahun 2030, yang akan memakan biaya hingga 49,2 milyar dolar AS hingga tahun 2030.
IFA 4: Akselerasi pemanfaatan energi terbarukan tipe variable
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) memiliki potensi untuk menjadi sumber listrik dan hemat biaya dan dapat memenuhi kebutuhan permintaan listrik. Dokumen CIPP mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas sebesar 40,4 GW pada tahun 2030, yang memakan biaya hingga 25,7 milyar dolar AS pada tahun 2030.
IFA 5: Membangun rantai pasok energi terbarukan
Transisi energi menyajikan peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya saing ekonomi indonesia.